Senin, 16 Juni 2014

Pekerjaan Officeboy dan Cleaning service adalah pekerja yang paling baik


Pemerintah seharusnya memberikan penghargaan dan lebih memperhatikan kita menjadi contoh tauladan yang baik dalam bekerja ,,
karena kita Pegawai yang paling SOPAN, RAJIN dan BERSIH,
1. kita sopan pada semua pegawai tiap yg datang kita pasti menyapa (slamat pagi/siang/sore/mlm,, pa/bu,
2. Paling rajin dan Giat, tiap hari datang paling awal pulang paling terakhir.
3. Bersih Pasti paling bersih,,,

Selasa, 20 Mei 2014

Sebagai Petugas Cleaning jangan mengambil Pepatah Mengalir Seperti Air


Anda pasti pernah mendengar teman Anda mengatakan, Aku hanya mencoba menjalani hidup bagai air yang mengalir. Mungkin ketika teman Anda mengatakan hal itu, ekspresi wajahnya terlihat lesu dan pasrah dengan keadaan. Bahasa tubuhnya tidak bersemangat. Mengutamakan pemikiran bahwa kehidupannya adalah harga mati yang harus diterima dan dijalani. Itu salah, dan mungkin bodoh.
Barack Obama tidak akan menjadi presiden kulit hitam Amerika yang pertama jika ia tidak berani untuk melawan isu-isu rasialis kental di negara itu. Sylvester Stallone mungkin saat ini hanya menjadi seorang kuli panggul yang keriput di daerah Bronx apabila ia tidak berani untuk melawan penilaian masyarakat tentang cacat pada wajahnya. Bahkan, mungkin seorang Tukul Arwana tidak akan mencapai puncak kesuksesan sebagai seorang pembawa acara jika terus mendengarkan kata orang lain yang menjuluki perilakunya itu Ndeso.
Tahukah Anda bahwa fakta dalam kehidupan justru berbicara berbeda? Anda bukanlah air. Kehidupan, pada dasarnya, justru memaksa Anda untuk berdiri kokoh agar cukup kuat untuk melawan arus.
Mungkin kata-kata inilah yang paling cocok untuk teman Anda yang masih mengalir saja entah ke mana itu. Mengalir mungkin tepat jika itu hanya sebagai salah satu strategi dalam menghadapi tantangan hidup. Tapi salah kaprah ketika dimanifestasikan sebagai paradigma hidup, apalagi gaya hidup.
Banyak orang berhenti berusaha dan menyerah begitu saja karena merasa bahwa impiannya itu mulai terlihat tidak masuk akal. Lalu mengelak dengan sikap pasrah dan memutuskan untuk mengikuti ke mana kehidupan ini akan membawanya, tanpa berusaha karena takut bahwa itu mungkin tidak sejalan dengan apa yang menjadi takdirnya. Di situlah letak kesalahan sebenarnya. Berpikirlah bahwa hidup itu sebuah pilihan, dan pilihlah untuk menjadi sukses dan bahagia. Anda berhak untuk sukses dan bahagia!
Risiko tinggi memang mendatangkan imbalan yang tinggi pula. Semakin tinggi impian Anda, maka semakin berliku dan melelahkan perjuangan Anda untuk mendapatkannya. Namun ketika Anda berhasil meraihnya, dan orang lain mengakui bahwa itu sebuah hasil kerja keras dan pengabdian, Anda akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Selama Anda tidak ceroboh, dan bertanggung jawab dengan apa yang Anda lakukan, hidup akan tetap terasa indah meskipun sebenarnya sulit.

Minggu, 18 Mei 2014

Tanggung jawab Kebersihan tanggung jawab bersama

Diki Ariadi

Kesadaran Masyarakat Dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan
Kebersihan sebuah cerminan bagi setiap individu dalam menjaga kesehatan yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti yang kita ketahui bahwa kebersihan merupakan suatu keadaan yang bebas dari segala kotoran, penyakit, dan lain-lain, yang dapat merugikan segala aspek yang menyangkut
setiap kegiatan dan perilaku lingkungan masyarakat. Dan sebagaimana di ketahui bahwa kehidupan manusia sendiri tidak bisa dipisahkan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial.
Maka sebagai individu harusnya segala aspek yang ada dalam masyarakat harus dapat menjaga kebersihan lingkungan. Karena tanpa lingkungan yang bersih setiap individu maupun masyarakat akan menderita sebab sebuah faktor yang merugikan seperti kesehatan.
Kesehatan itu begitu mahal harganya. Sehingga semuanya harus di olah dengan baik. Lingkungan yang kotor berarti penganggu kesehatan yang juga berarti membuat bibit penyakit. Namun segala sesuatu ada kata perubahan hanya saja dalam segala persoalan-persoalan, semua ini tidak dapat dijalankan tanpa sebuah kesadaran dari setiap individu masyarakat maupun kelompok masyarakat untuk menjaga kebersihan, Maka Kebersihan itu tidak akan berguna dan menimbulkan banyak kerugian.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pandangan masyarakat tentang sadar lingkungan sangatlah minim/kurang. Dari hal tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masyarakat masih belum peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitarnya. Kebanyakan dari mereka berfikir secara parsial dan hanya ingin menguntungkan diri sendiri, seperti masalah pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, pembungan limbah pabrik, polusi udara, pencemaran air, dan lain-lain.
Kasus-kasus yang menyangkut masalah kebersihan setiap tahunnya selalu meningkat. Dan mengakibtakan keadaan yang merugikan seperti banyaknya sampah yang menumpuk di parit-parit rumah dan kanal air yang bisa menyebabkan banjir karena meluapnya air yang tidak tertampung. Untuk itu kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan tidak hanya pemerintah setempat yang harus menanggungnya.
Kesadaran adalah proses yang diawali dari adanya rasa memiliki atau sense of belonging. Rasa memiliki lingkungan sekitar akan memicu rasa tanggung jawab atau sense of responsibility. Rasa tanggung jawab ini akan menghasilkan kesadaran warga bahwa tugas untuk menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban
pemerintah saja tapi juga warganya.
Mengingat tentang kesadaran tersebut, perlu di ketahui juga bahwa bencana seperti banjir, longsor,meluapnya air diperkotaan, karena ketidak pedulian masyarakat itu sendiri . Pemerintah sudah berupaya untuk selalu siap siaga apabila menghadapi musim hujan. Tapi kita lihat dibeberapa tempat yang sungainya begitu kotor dan penuh dengan sampah, dipinggiran jalanpun banyak tumpukan-tumpukan sampah yang menutupi gorong-gorong, atau saluran-saluran air yang ditutup masyarakat untuk
kepentingan pribadi dan tidak mementingan kepentingan umum.
Hal ini harus kita sadari bersama-sama supaya tidak saling menyalahkan antara pemerintah sebagaipengelola lingkungan melayani kepentingan masyarakat dan masyarakat itu sendiri yang tingkat kesadaran dalam menjaga lingkungannya masih minim.Untuk itu marilah kita sama-sama menjaga segala fasilitas umum yang tersedia dan juga turut andil dalam menjaga kebersihan lingkungan agar tercipta suasana yang aman dan nyaman terhindar dari segala bencana yang disebabkan oleh lingkungan kotor. Kesadaran dan kepedulian masyarakat yang sangat diharapkan, dan juga peran pemerintah yang terus memberikan sosialisasi kepada masyarkat untuk memberikan informasi yang tepat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Rabu, 30 April 2014

OFFICE BOY DAN CLEANING ANDA LEMES, MALES, TIDAK SEMANGAT,,,,JANGAN DI PHK!! SERAHKAN PADA KAMI



OFFICE BOY DAN CLEANING DI KANTOR ANDA LEMES, MALES, TIDAK SEMANGAT,,,,JANGAN DI PHK!!
SERAHKAN PADA KAMI

KAMI AKAN MEMBERIKAN ARAHAN BAGAIMANA PETUGAS ANDA BISA SEMANGAT LAGI DAN SESUAI DENGAN HARAPAN KEBERSIHAN DI KANTOR ANDA,,,

Beri dia waktu 1 hari ikut pelatihan dengan kami (Training), kami akan memberikan pengarahan berupa :

1. Bagaimana menjadi petugas Cleaning yang baik?.
2. Bagaimana memberikan pelayanan terbaik?
3. Bagaimana cara mempergunakan alat-alat Cleaning?
4. Bagaimana tanggung jawabnya terhadap perusahaan.

Kami akan memberikan arahan pada Cleaner Anda

 Persyaratan :
1. Surat ijin dari perusahaan Petugas Cleaning, (Tidak berlaku bagi Autsorching Cleaning service)
2. 1 Orang per/perusahaan
3. Catatan Khusus "Komentar" mengenai kekurangan Cleaning atau Office boy (dalam Amplop di lem)
4. Biodata Petugas Cleaning.
5. Sedekah Seiklasnya (Sumbangan anda akan kami salurkan ke Orang yang membutuhkan seperti :
    Pakir miskin, orang yang benar-benar membutuhkan uluran tangan anda).
6. Bersipat suka rela Kalau mau memberi silahkan kalaupun tidak memberi kami tidak masalah (Suka rela)
     lebih baik jangan memberikan tip pada kami sebelum ada bukti atau perubahan pada petugas Cleaner
     /officeboy perusahaan anda .

Lokasi Training : Blok M, Pamulang, BSD

Bagi yang mau ikut silahkan Hub  CSOB : 021-96308576 (Terbatas)

Meningkatkan Koordinasi dan QC Cleaning service

Mengingat kejadian di JIS , Kita harus lebih meningkatkan lagi QC, dan memberikan pengarahan-pengarahan bukan hanya sebatas pekerjaan,,,
Keluhan-keluhan petugas Cleaning lebih diperhatikan,,, diberikan santapan rohani,,,bagaimana menjadi petugas cleaning yang baik...

Minggu, 19 Januari 2014

Terima kasih anak-anak sekolah Ora et Labora, terima kasih bapak dan ibu guru yang senantiasa telah mengajarkan anak didiknya semenjak Taman kanak-kanak untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya

Diki Ariadi
CSOB Indonesia

Spv. CSOB Indonesia
Terima kasih  anak-anak sekolah Ora et Labora, terima kasih bapak dan ibu guru yang senantiasa telah mengajarkan anak didiknya semenjak Taman kanak-kanak untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, Saya melihat sendiri Siswa Taman kanak-kanak telah membuang sampah pada tempatnya, begitu kagumnya saya, begitu lucunya anak itu, plastic bekas makanan ringan telah dibuangnya ke tempat sampah. Saya kagum melihat siswa sekolah Dasar Ora et Labora meminjam kain pel untuk membersihkan air bekas tumpahan minumnya sendiri, mereka tidak manja, sambil saya tersenyum dan perhatikan cara mengepelnya akhirnya saya kasih tahu juga cara mempergunakan kain pelnya supaya hasilnya bersih.  Begitu pula siswa-siswinya yang di SMP, SMA mereka telah membuang sampah pada tempatnya.
Mendidik anak-anak sejak usia dini tentang kebersihan dan kesehatan diri sendiri sangatlah penting, karena bila sedari dini sudah memahami arti dari kebersihan untuk kesehatan diri sendiri maka mereka akan lebih peka akan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar mereka.
Apabila membuang sampah pada tempatnya itu dijadikan tradisi dan juga rutinitas, maka yang kita perlu lakukan adalah menjaga dan melestarikan tradisi tersebut agar tidak punah. Bayangkan saja apabila tradisi membuang sampah pada tempatnya sudah tidak ada lagi, maka dipastikan rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan dimana kita tinggal akan berantakan dan tidak karuan karena banyak sampah dimana-mana dan akan menimbulkan penyakit bagi orang yang menempatinya.

Kami Petugas kebersihan sekolah ORA et LABORA sangat berterima kasih kepada  anak-anak sekolah Ora et Labora, yang telah meringankan tugas kami yaitu membuang sampah ke tempat sampah, dan di sekolah ORA et LABORA tak ada lagi seperti kapal pecah, Petugas-petugas kebersihan kami sangat senang bekerja di sekolah ini karena anak-anak sekolahnya Cinta Kebersihan dan rajin membuang sampah pada tempatnya. Demi menjaga kebersihan area sekolah Ora et Labora untuk itu kami Petugas kebersihan sekolah berpesan “Apabila menemukan area sekolah dalam keadaan kotor segera beritahu petugas kami dan apabila area sekolah Bersih silahkan beritahu teman dan orang tua di rumah”. Terima kasih.

Kamis, 26 Desember 2013

Kisah Seorang Cleaning Service KFC Menjadi Boss Rocket Chicken

Kisah Seorang Cleaning Service KFC Menjadi Boss Rocket Chicken

Bekerja sebagai cleaning service merupakan awal mimpinya untuk hidup mandiri dan dapat membiayai kuliah. Namun, karena kesibukannya bekerja sebagai cleaning service di restoran cepat saji tersebut, Nurul Atik harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk melanjutkan pendidikannya. Ia malah membangun sendiri usaha makanan cepat saji yang kini sukses.



Anda pasti pernah mendengar ungkapan: “Orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.” Ungkapan ini mungkin cocok disematkan bagi seorang Nurul Atik. Pria asal Jepara ini menapaki kesuksesan dari jalan berliku.

Mantan cleaning service ini sekarang memiliki Rocket Chicken, perusahaan waralaba di bidang makanan cepat saji. Kini, ia memiliki 83 mitra di seluruh Indonesia. Ia mendapat pembayaran biaya royalti hingga Rp 100 juta dari para mitra.


Sebelum menjadi Presiden Direktur Rocket Chicken, Nurul bekerja sebagai seorang cleaning service di California Fried Chicken (CFC) di Semarang, Jawa Tengah. Dari seorang tukang bersih-bersih resto cepat saji, kini dia menjadi bos resto cepat saji milik sendiri.

Kisah Nurul dalam menapaki dunia kerja berawal ketika ia lulus dari Sekolah Menengah Atas(SMA), 20 tahun lalu. Lantaran ingin meringankan beban orang tua, Nurul pun berencana untuk melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri.

Sempat menganggur selama setahun mencari pekerjaan, Nurul akhirnya diterima bekerja di CFC di Jalan Pemuda Semarang. Nurul bekerja sesuai dengan profesi yang dibutuhkan pada saat itu yakni sebagai cleaning service alias tukang bersih-bersih di restoran cepat saji itu.

Selama tiga bulan, Nurul menjadi karyawan dengan status trainee. Gaji pertama Nurul sebagai cleaning service pada saat itu hanya Rp 35.000 per bulan. Ia harus membagi gaji itu untuk kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Dengan jumlah gaji yang pas-pasan tersebut, sering ia harus berutang pada rekan-rekannya di CFC.

Karena kinerjanya yang bagus, ia kemudian diangkat menjadi pegawai tetap. Selang tiga bulan berjalan, akhirnya Nurul diangkat menjadi tukang cuci piring selama empat bulan.

Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama empat bulan. Karena kinerjanya semakin hari semakin baik Nurul diangkat lagi menjadi kasir selama enam bulan. Tak hanya sampai di situ, Nurul lalu naik pangkat menjadi seorang supervisor selama satu tahun.

Nurul juga mengecap posisi sebagai asisten manajer selama dua tahun di perusahaan yang sama. Karena kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama tiga bulan. Tak memerlukan waktu yang lama, pria yang kini berusia 42 tahun ini mengecap posisi manajer areal selama dua tahun.

Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Yogyakarta.

Dengan kesibukannya bekerja di restoran cepat saji tersebut, Nurul mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. “Pada saat menjadi cleaning service, ternyata jam kerjanya shift sehingga saya tidak bisa membagi waktu antara kerja dan keinginan untuk kuliah,” tutur Nurul.

Namun, ia tak putus asa. Nurul mempunyai jurus jitu dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata. “Setiap melangkah kita harus memiliki niat yang kuat dan harus ditekuni,” tandas Nurul.

Ia juga mengungkapkan, dalam menjalankan segala kegiatan harus dilandasi dengan percaya diri dan semangat. Menurutnya, ia mendapat banyak pelajaran selama bekerja di restoran cepat saji CFC. Ia banyak mendapat ilmu dari rekan-rekannya yang berkerja di tempat tersebut, dari mulai menghargai hidup sampai pada pengelolaan restoran.

Pada saat bekerja sebagai cleaning service di CFC, Nurul memang tidak memikirkan jumlah pendapatan atau gaji yang ia terima. Ia hanya terus berpikir untuk bekerja sambil belajar apa saja yang didapatnya kala itu.

Karena keinginan yang kuat untuk hidup mandiri itu, Nurul memutuskan mencoba hidup mandiri dengan niat mendirikan usaha sendiri. “Orang tua pun mendukung sepenuhnya apa yang telah menjadi pilihan saya, hidup mandiri,” tandas Nurul.

Jiwa wirausaha tidak bisa dipisahkan dengan sosok Nurul Atik. Walau sudah berada pada posisi yang nyaman di sebuah restoran cepat saji, Nurul memutuskan membuka usaha dengan mereknya sendiri, Rocket Chicken. Cuma butuh waktu setahun, restoran yang menjual fried chicken ini sudah mengembang sampai 83 mitra.

Dengan gaji yang pas-pasan yang ia terima ketika menjadi cleaning service membuat Nurul Atik harus memutar otak agar ia bisa memenuhi kebutuhan saban bulannya. Tak jarang, ia harus meminjam uang dari rekan kerjanya di California Fried Chicken (CFC). Ia juga kerap meminta tambahan uang ke orang tuanya.

Untuk menghemat biaya hidup, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang dengan alasan pengiritan, ia memilih berjalan kaki sampai satu kilometer. “Kalau sudah lelah, saya baru naik angkot,” ujarnya mengenang.

Kamar kos Nurul juga tak kalah memprihatinkan. Dengan luas 3X3 meter, kamar sewaan itu tak dilengkapi dengan kasur dan perabot lainnya. Kondisi seperti itu dilakoni Nurul kurang lebih selama lima bulan, sampai ia mendapat mess dari kantornya.

Buka usaha
Seiring karier yang terus menanjak serta kondisi ekonomi yang terus membaik, pada usia 29 tahun, Nurul pun memutuskan menikah dengan Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta yang baru dipacarinya dua bulan. “Saat itu, saya sudah menjadi manager di CFC Yogya,” ujar Nurul.

Meski begitu, gaji yang diterima Nurul tak mampu memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Apalagi menyusul kemudian pasangan Nurul dan Emy dikarunia momongan. Makanya, setelah melahirkan anak pertama mereka, Emy membantu perekonomian keluarga dengan membuka usaha roti.

Meski posisinya cukup baik di tempat kerjanya, keinginan Nurul untuk membuka usaha sendiri rupanya tak pernah padam. Puncaknya terjadi ketika krisis keuangan melanda Tanah Air tahun 1998, Nurul memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri.

Nurul merasa waktu 10 tahun bekerja sudah cukup untuk berguru di restoran cepat saji Amerika Serikat itu. “Saya mantap keluar karena ingin mandiri,” ujarnya.

Pada saat yang sama, seorang kawan mengajak Nurul membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng (fried chicken). Ide tersebut muncul karena pada waktu itu membuka restoran cepat saji atau fast food menjadi tren di kalangan masyarakat.

Berbekal pengalamannya, Nurul mantap menerima ajakan temannya. Ia kemudian bertindak sebagai pengembang bisnis, sementara temannya mengurusi permodalan. Usaha keras mereka membawa hasil. Bisnis mereka cepat mengembang. Saat ini, Nurul telah memiliki 86 cabang.

Seiring berjalannya waktu, lelaki kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini kembali merasa gelisah. Ia tergelitik mengibarkan bendera usaha dengan membuat restoran fried chicken sendiri. Kali ini dengan potensi pasar yang berbeda dengan usaha sebelumnya yang menyasar pasar menengah atas.

Pilihannya jatuh ke pasar menengah bawah. Selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran fast food lokal maupun asing. Pada 21 Februari 2010, Nurul lantas mendirikan usaha sendiri dengan nama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Perkembangan bisnisnya ini di luar perkiraan Nurul. Antusias masyarakat menyambut bisnis makanan cepat sajinya sangat cujup menggembirakan. Baru setahun berjalan, Nurul memiliki 83 mitra. Dengan sistem waralaba, Nurul mengembangkan bisnisnya tampa mengeluarkan modal uang sepeser pun. “Semuanya hanya didasarkan pada kepercayaan saja,” ujarnya.

Beruntung, kebanyakan mitranya adalah orang-orang yang mengenal dan tahu sosok Nurul yang telah berpengalaman dalam bisnis ayam krispi ini. “Saya cuma jual nama saja, outlet awalnya tak punya,” tandas Nurul.

Bersama mitranya, ayah tiga anak ini hanya menekankan agar menjalankan bisnis dengan kerja keras, tekun serta jujur. Bila itu menjadi landasan, Nurul yakni bahwa usaha mereka akan membawa amanah. Tak cuma bagi karyawan, tapi juga pemilik usaha franchise ayam krispi Rocket Chicken.